Pelaksanaan Kuliah Daring di UNSOED Menghadapi Wabah Corona (SARS-CoV-2)

×

Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in _menu_load_objects() (line 579 of /var/www/clients/client11/web14/web/includes/menu.inc).

Tanggal 13 Maret 2020, ketika awal maraknya pemberitaan wabah Virus Corona, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) memutuskan perlunya mendukung gerakan pemerintah memutus rantai penularan wabah. Rektor UNSOED mengeluarkan kebijakan metode kerja dari rumah dan belajar dari rumah.

Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) dan Lembaga Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi (LPTSI) mempersiapkan mekanisme yang berkaitan dengan pembelajaran. LP3M bekerja pada ranah metode pembelajaran, sedangkan LPTSI mengurus dukungan teknis dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tersebut.

Memang mengagetkan bagi banyak dosen. Apalagi UNSOED sedang menyiapkan peraturan tentang pembelajaran “blended learning”, dimana tatap muka dan metode daring dilakukan dalam perkuliahan. Rencana pertemuan yang bisa di-daring-kan adalah empat pertemuan, dari empat belas pertemuan. Bagi sistem blok, sebanyak 30% dari total tatap muka pengajaran. Namun kebijakan social distancing menuntut semua pertemuan harus dilakukan secara daring. “Apakah menggunakan Whatsapp saja cukup?”, “Kalau saya emailkan materinya ke mahasiswa, bagaimana??”. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di berbagai grup obrolan dosen. Namun hal ini sudah diantisipasi dengan keluarnya edaran dari LP3M yang menyatakan pembelajaran bisa menggunakan platform Learning Management System (LMS) berupa eLDirU atau Google Classroom sebagai pengganti tatap muka. Bagi yang menginginkan tatap muka langsung juga bisa menggunakan fasilitas telekonferensi dengan berbagai platform telekonferensi yang ada, misalnya Google Meet, Zoom, WebEx, Skype, dan lain-lain.

Pusat Pengembangan e-Learning - LP3M, yang beranggotakan Dr. Ardiansyah dan Eko Murdyantoro, MT, memutuskan untuk mempercepat penyebaran kemampuan teknis metode kuliah secara daring. Pelatihanpun dilakukan secara daring menggunakan fasilitas teleconference dari Google Meet. Selama dua hari berturut-turut, masing-masing terdapat 6 sesi pelatihan yang disampaikan dengan teleconference. eLDirU dan Google Classroom merupakan materi yang disampaikan dalam pelatihan-pelatihan tersbut. Narasumber diambil dari satgas pembelajaran daring yang beranggotakan wakil fakultas-fakultas. Dosen yang perlu belajar salah satu dari platform pembelajaran daring dapat mengikuti pelatihan online yang dijadwalkan.

Filosofi pembelajaran daring pun dipahamkan kepada semua dosen. “Inti dari pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Sebagaimana menjadi kebijakan pusat mengenai Pendidikan Jarak Jauh, ada empat komponen yang harus ada pada modul pembelajaran daring; capaian pembelajaran, konten materi pembelajaran, forum diskusi dan kuis. Forum diskusi penting untuk mewadahi pertanyaan-pertanyaan mahasiswa dan interaksi dengan dosen. Dengan demikian mahasiswa bisa lebih cepat memahami materi pembelajarannya. Sedangkan kuis, diperlukan untuk mengukur sejauh mana capaian pembelajaran yang diinginkan dicapai oleh mahasiswa. Begitu keterangan Dr. Ardiansyah.

Eko Murdyantoro, MT menjelaskan bahwa platform eLDirU yang terkoneksi SIA yang diarahkan untuk digunakan sebagai platform utama pembelajaran daring di UNSOED. eLDirU lebih bisa dikustomisasi untuk bisa mengirim data ke SIA sebagai absen, hal yang akan dilakukan mendatang. Namun saat ini, dalam kondisi darurat, penggunaan platform Google Classroom dimungkinkan untuk mendukung pembelajaran.

Pada sisi infrastruktur, keputusan untuk mengadopsi Google Classroom sebgai platform pembelajaran daring selain eLDirU, diambil dengan banyak pertimbangan. Jika satu pertemuan dilakukan dalam waktu yang sama, katakanlah ada seribu mahasiswa mengakses eLDirU secara bersamaan, dikhawatirkan server bisa down. Berbeda dengan blended learning. Pada metode blended learning, pertemuan yang di-daring-kan tiap dosen berbeda-beda, ada yang pertemuan kedua, keempat, kedelapan, dan lain-lain. Variasinya tergantung dosen dan materi pembelajarannya. Dalam hal ini blended learning tidak akan menyebabkan server down. Begitu keterangan Azis Wisnu Widhi N, S.T, M.Eng, Koordinator Pusat Pengembangan dan Infrastruktur LPTSI.

Ketua LP3M, Ir. Suprayogi, Ph.D menjelaskan, dengan adanya kebijakan perkuliahan daring ini, mahasiswa diharapkan tidak pulang, karena pada dasarnya ini bukan liburan. Mereka diharapkan tetap di tempatnya dan mengakses perkuliahan secara daring. Karena kalau mereka pulang kampung, tujuan kebijakan yang utamanya adalah memutus rantai penularan malah tidak tercapai. Jika ada mahasiswa yang pulang ke Jakarta, Bekasi dan daerah-daerah epicentrum wabah, maka mereka otomatis perlu diawasi ketika kembali ke Purwokerto.

Perkembangan terkini, penyedia jasa layanan telekomunikasi selular Telkomsel sudah memasukkan eLDirU sebagai salah satu platform yang bisa mendapatkan kuota data gratis. Melalui paket kuota Ilmupedia, akses dosen dan mahasiswa pada situs http://eldiru.unsoed.ac.id dapat menggunakan kuota gratis hingga 30 GB. Dengan demikian mahasiwa tidak terkendala kuota dalam mengakses pembelajaran daring. Hanya saja untuk teleconferensi dan Google Classroom, belum termasuk platform yang didukung oleh paket Ilmupedia.

Kini dua pekan sejak diterapkannya sistem pembelajaran daring, baik mahasiswa dan dosen sudah mulai terbiasa dengan metode tersebut. LP3M dan LPTSi dibantu satgas pembelajaran daring masih terus berjaga mengawal pelaksanaannya dengan memberikan dukungan teknis kepada dosen-dosen yang membutuhkan.

“Biasanya sehari-hari sibuk rapat-rapat, dengan kebijakan “Work from Home”, saya lebih punya banyak waktu mengembangkan perkuliahan daring”, kata seorang dosen. Dosen lain mengatakan, “Kuis saya tidak banyak-banyak, hanya untuk absen. Kasihan mahasiswa banyak tugas dan kuis”. Diskusi seperti ini biasa terjadi di grup Whatsapp dosen. Para dosen saling menanggapi dengan santai. “Kalau saya kasihan melihat mahasiswa stress karena rebahan terus. Setelah dicoba ternyata rebahan kebanyakan membuat kepala pusing dan perut mual”. Begitu tanggapan dosen lainnya. Dosen ini berpendapat agar mahasiswa tidak terlalu dibuat santai karena santai juga bisa membuat stress.

Beberapa mahasiswa mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan dosen. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, tugas yang diberikan masih sama dengan ketika kuliah dilaksanakan secara tatap muka. Hanya saja ada sedikit “efek kejut’ bagi mahasiswa ketika materi harus dipelajari sendiri. Biasanya mahasiswa datang, absen, duduk dan diam, lalu perkuliahan selesai. Namun kini, teori pembelajaran orang dewasa benar-benar diterapakan. Bahwa mahasiswa adalah pembelajar dewasa yang akan mengkonstuksi sendiri pengetahuannya. Mahasiswa harus secara aktif mempelajari materi perkuliahan. Dosen hanya sebagai fasilitator. Menentukan arah pembelajaran itu kemana dan menyediakan bahan-bahan yang bisa membantu mahasiswa memahami sebuah materi.

Kuliah secara daring kini menjadi semakin lumrah dilakukan. Kultur pembelajaran mahasiswa juga sedang dibentuk. Dari yang tadinya pasif hanya mendengarkan di kelas, menjadi aktif ikut membangun pengetahuannya sendiri. Kita mengharapkan wabah ini cepat berlalu. Meninggalkan kultur-kultur baru dan praktik-praktik baru yang lebih baik dan efisien dalam pelaksanaan pembelajaran.

Kilas LP3M

Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Jenderal Soedirman.

Selengkapnya →

Kontak Kami

Office :
Jl. Kampus No. 1
Grendeng
Purwokerto Utara
53122

0281-623824

lp3m@unsoed.ac.id, lp3m.unsoed@gmail.com

Berlangganan Berita LP3M: